Pantura
Siapa yang tidak
kenal dengan jalur pantura, Pantura = Pantai Utara Jawa. Setiap kita khususnya
warga Jakarta yang senantiasa memantau pemberitaan media massa jenis apapun akan terusik dengan
info seputar Pantura, terlebih lagi ketika mendekati hari raya Lebaran.
Sayangnya berita yang sering beredar seputar Pantura mengisahkan tentang ketidak
beresan perihal
yang
ada di jalur mudik tersebut.
Berita apakah yang
sering anda tangkap ???
Kecelakaan di sekitar
jalur Pantura, kemacetan berkepanjangan di saat 7 hari menjelang Hari Idul
Fitri, aksi perbaikan jalanan yang rusak atau bolonk seolah sudah menjadi
kondisi rutin ulangan setiap tahunnya. Koq rutin ? Untuk masalah ini coba anda
cari sendiri jawabannya. he
he hee
Selain harga-harga
yang sering menggeliat naik ketika bulan puasa atau menjelang lebaran, kegiatan
perbaikan jalan raya jalur Pantura adalah sesuatu yang umum yang bisa kita
saksikan secara langsung (LIVE) bagi yang mudik ataupun bagi yang memantaunya
via radio atau televisi.
Aksi perbaikan jalan
di jalur Pantura meninggalkan kesan akan kegagalan pemerintah pusat dan
pemerintah daerah dalam memberikan layanan publik yang baik. Kenapa dibilang GAGAL? Karena pemerintah tidak mampu
memperbaiki kondisi jalanan di sekitar area tersebut secara permanen atau
bertahan untuk jangka waktu yang lama, yang timbul di permukaan hanyalah
“proyek” perbaikan jalan yang sifatnya sementara (tambal sulam). Saat ini atau
mulai mendekati bulan puasa diperbaiki nanti akan diperbaiki lagi di tahun
depan dalam moment yang sama. Saat ini diperbaiki, nanti hanya beberapa bulan
saja sudah rusak lagi.
Masyarakat umum sudah
banyak yang menilai bahwa ada indikasi ketidak beresan dalam penanganan masalah
infrastruktur di kawasan Pantura.
Perencanaan
yang tidak tepat
Ada yang mengatakan
bahwa anggaran pemerintah untuk perbaikan jalan di wilayah tersebut baru turun
atau baru cair sekitar bulan Mei. Benarkah ? lantas apakah pencairan dana
seperti ini selalu terjadi setiap tahunnya ? Mengapa tidak dilakukan perubahan,
bahwa ada pos-pos pendanaan yang diharuskan segera cair untuk pembangunan
infrastruktur/prasarana jalan tanpa menunggu birokrasi atau tahapan yang
melelahkan.
Mental
yang bobrok atau kurang improvisasi
Boleh jadi dana
tersebut sudah cair, tapi instansi terkait bingung mau diapakan dana sebanyak
ini. Mereka tidak punya program perencanaan yang baik atau tidak mengerti
bagaimana program jangka panjangnya, sehingga aksi yang ada adalah Aksi Tambal
Sulam Jalan yang sudah pasti hanya bertahan untuk sementara waktu, yahhh paling-paling
sekitar 8 bulanan itu juga kalo benar
tebakan saya. (isyu yang pernah saya dengar dari media, dana untuk perbaikan
jalan di negara ini sekitar 1,7 Trilyun pertahunnya. Dana itu dananya siapa
hayooo? Yaa tentunya uang anda, uang saya, uang siapa saja yang ada di negara
Indonesia ini.)
Belum lagi mental
korupsi yang menjangkiti negeri ini. Pernah ada yang mengatakan sejak tahun
80-an, setiap kali dirinya dan keluarganya akan pulang kampung melintasi jalur
Pantura, maka akan ditemukan beberapa sisi jalan yang sedang di perbaiki, dan
selalu terjadi berulang sampai sekarang. Masyarakat umum akan menilai bahwa
sepertinya program perbaikan jalur pantura mengandung “proyek yang
menguntungkan” bagi pihak-pihak tertentu. Dan ada yang mengatakan bahwa merupakan
suatu hal yang mudah untuk melakukan korupsi di perbaikan/pengadaan
infrastruktur/prasarana sepert ini. Di negara ini belum ada auditor khusus yang
mampu menghitung secara detail/rinci akan bahan-bahan yang dibutuhkan, belum
lagi lamanya proses yang nanti akan berjalan. Kenapa ? Karena memang sangat
dibutuhkan spesifikasi dan hitungan2x yang rumit untuk perbaikan infrastruktur
seperti ini. Bagaimana dengan KPK ? Khabarnya sih KPK sudah mengendus masalah
ini, kita lihat saja nanti.
Lantas .....gimana
dunk ??? what we can do ?
Menurut orang2x
pintar (bukan dukun atau paranormal lhooo). Sudah mestinya pemerintah kita
berkaca diri, mengapa kondisi seperti ini selalu terjadi..terjadi dan oohhhh
terjadiii... Apakah bangsa ini kekurangan teknokrat yang mumpuni ? Masa iya
sihhh....tapi kalau memang belum punya teknokrat yang mumpuni untuk memperbaiki
permasalahan jalan di negara ini, maka tidak ada salahnya jika pemerintah
menginfakkan dananya untuk menyewa teknokrat dari negara lain semisal Jepang.
Perlunya auditor
khusus yang memantau program perbaikan jalan, mulai dari proses lelangnya atau
yang sebelum itu hingga tahap pengerjaannya. Di samping itu perlu sekali
masyarakat umum ikut melakukan pemantauan misalnya melihat bagian jalan mana
yang mulai berlubang sebesar biji salak, kemudian melaporkan ke instansi
terkait semisal Dinas Pekerjaan Umum atau Instansi Lalu Lintas jalan Raya
(emangnya ada yaaa). Sehingga ketika muncul kerusakan yang sedikit, bisa segera
ditangani dan dianalisa siapa yang bertanggung jawab dalam perbaikan jalan
sebelumnya.
Wallohu a'lam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar